filsafat agama
NAMA: MUHAMAD AD-DURRUN NAFIS
NIM: 0402192009
MATKUL: FILSAFAT AGAMA
ARTIKEL PERBEDAAN PENDEKATAN TEOLOGI DAN FILOSOFIS
Teologi terdiri dari dua kata, yaitu theos yang berarti Tuhan dan Logos yang berarti Ilmu. Jadi teologi adalah ilmu tentang Tuhan atau ketuhanan. Secara terminologi, teologi adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan dan segala sesuatu yang terkait dengannya, juga membahas hubungan Tuhan dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan.
uraian di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan pendekatan teologi adalah cara pandang atau analisis terhadap masalah ketuhanan dengan menggunakan normanorma agama atau simbol-simbol keagamaan yang ada. Dengan kata lain, pendekatan teologi cenderung normatif karena keyakinan teologi (keagamaan) menjadi norma dalam melihat suatu fenomena. Teologi atau agama menurut Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarak3 mengandung dua kelompok ajaran. Pertama, ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui Rasul-Rasul-Nya kepada masyarakat manusia. Kedua, penjelasan-penjelasan para pemuka atau pakar agama yang membentuk ajaran agama.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa teologi adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan dan manusia serta hubungan manusia dengan Tuhan, meskipun pembahasan ini bersifat normatif. Teologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang memenuhi kriteria saintifik, yaitu penggunaan akal dengan segala kemampuan analisisnya, generasiasinya, serta hukum-hukum penarikan kesimpulan induksi dan deduksi terhadap data-data pengalaman. 4 Dengan cara ini bisa diperoleh hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mendasari dan mengaitkan fakta dan fenomena yang disajikan serta menyatukan seluruh isi pengalaman ke dalam satu sistem yang koheren secara keseluruhan. Sebagai salah satu ilmu pengetahuan agama, teologi juga menggunakan metode transenden yang terjadi dalam empat tahap; mengalami, memahami, menilai dan memutuskan. Pengalaman merupakan data keagamaan, pemahamn berarti menghayati maknamakna, penilaian akan mencari dan mengukuhkan kebenaran dan keputusan adalah pengakuan terhadap nilai-nilai (agama) yang diterima sebagai suatu fenomena yang perlu diperhatikan oleh setiap pemeluknya.
Dalam pembahasan ini, penulis menampilkan upaya yang dilakukan oleh para islamolog Barat, seperti Hans Kung yang banyak mengkaji tentang Islam. Dalam berbagai karyanya ia menggunakan pendekatan teologis, yang bertolak dari perspektif teologi Kristen dalam melihat Islam, tetapi perspektif teologi tersebut tidak digunakan untuk apologis melainkan untuk dialog antara Islam dan Kristen. Kung menyajikan pandangan-pandangan teologi Kristen dalam melihat eksistensi Islam mulai dari pandangan teologis yang intoleran sampai pada pandangan yang toleran yang mengakui eksistensi masing-masing. Dalam melengkapi komentarnya, pertanyaan teologis yang diajukan Kung adalah apakah Islam merupakan jalan keselamatan? Pertanyaan ini menjadi titik tolak untuk melihat dari teologi Kristen. Kung mengemukakan beberapa pandangan teologi Kristen, misalnya Origan Ciprian dan Agustinius yang mengatakan bahwa “ekstra galensiam nulla sulus”, artinya ada keselamatan di luar gereja.
Selain Kung, pendekatan teologis dialogis juga digunakan oleh W. Montgomery Watt. Hakekat dialog menurut Watt sebagai upaya untuk saling mengubah pandangan antara penganut agama yang saling terbuka dalam belajar satu sama lain. Dalam hal ini, Watt bermaksud menghilangkan sikap merendahkan agama seseorang oleh penganut agama lain, serta menghilangkan ajaran yang bersifat apologi dari agama masing-masing. Upaya ini dapat dilakukan melalui kerjasama antar pemeluk agama. Langkah pertama terciptanya kerjasama tersebut, menurut Alwi Shihab, kedua belah pihak dituntut bersama-sama mengoreksi citra dan kesan keliru yang selama ini tergambar dalam benak masing-masing pemeluk agama. 5 Bahwa terdapat perbedaan fundamnetal antar ajaran agama adalah hal yang tak dipungkiri. Oleh karena itu, perlu adanya dialog, namun hendaknya dialog antar pemeluk agama tersebut tidak diarahkan kepada perdebatan teologi doktrinal yang selalu berakhir dengan jalan buntu.
Menyadari bahwa secara fitrah manusia membutuhkan agama, dan agar agama yang dianutnya dapat memberi jaminan ketenangan, keselamatanm dan kebahagiaan, maka setiap penganut harus menggunakan beberapa pendekatan dalam memahami agama agar tidak terjadi benturan antara penganut agama yang satu dengan penganut yang lainnya. Pendekatan tersebut adalah pendekatan teologi normatif, dialogis dan konvergensi.
Pendekatan teologi dialogis ini akan memperkaya pemahaman antara pemeluk agama. Islam misalnya dapat membantu agama lain untuk memberikan penjelasan tentang keyakinan dan amalan yang kadang-kadang dianggap kurang berguna, demikian juga ummat Islam dapat emgambil manfaat dan mencontoh kegiatan Kristen dalam pekerjaan-pekerjaan sosial. Demikian pula antar satu agama dengan agama lain dapat meneladani hal-hal yang positif selama tidak mencampuradukkan prinsip-prinsip aqidah dari masing-masing agama tersebut.
Komentar
Posting Komentar